Surabaiya – Menjelang Bulan Juli alias awal tahun pelajaran baru, biasanya gerai toko seragam keperluan sekolah ramai pembeli. Namun suasana itu tidak terjadi di Tahun Pelajaran 2021/2022 ini akibat kebijakan Belajar Daring yang diterapkan belakangan ini. Dijumpai Rabu siang (28/07/2021), para pedagang celana sekolah di pasar Wonokrami menyayangkan hal ini karena di awal tahun pelajaran baru omset mereka menurun drastis.

“Saya jualan celana sekolah disini, dan tahun ini sepi banget. Sehari laku satu saja sudah untung.” ungkap Ratna pemilik kios yang khusus menjual celana sekolah di pojok Pasar Wonokrami.

Hal senada juga diungkapkan Rita, yang memiliki kios khusus menjual rok sekolah tepat disebelah kios Ratna. Ibu satu anak tersebut mengungkapkan bahwa semenjak tidak ada lagi yang membeli rok, dia harus memutar otak dan mengganti strategi dengan menjual kemeja sekolah.

“Spesialisasi saya itu rok sekolah, tapi terpaksa aja untuk sekarang saya harus rela ikut jualan atasan (kemeja). Untung-nya kemeja laku. Saya udah kasih tau jeng Ratna buat jual kemeja juga, cuma kayaknya dia masih nggak mau, mungkin celana sekolah sudah jadi prinsip hidupnya.” jelas Rita.

Ketua Asosiasi Pedagang Seragam Sekolah Khusus Bawahan (APSSKB) Kota Surabaiya, Irfan mengungkapkan fenomena belajar daring ini seharusnya bisa diperbaiki sehingga tidak merugikan pedagan seragam sekolah yang khusus menjual bawahan. Beliau mengungkapkan bahwa pihaknya sudah memberikan beberapa usulan kepada Dinas Persekolahan Kota Surabaiya terkait kebijakan ini.

“Iya, kami sudah mengajukan beberapa usulan. Salah satunya dengan mengubah arah kamera saat belajar daring yang menjadi ke seluruh badan sehingga mau tidak mau anak sekolah harus membeli celana atau rok baru.” jelas Irfan saat ditemui di sela sela kegiatan makan siang yang dilaksanakan di kediaman rumahnya bersama keluarga.

Reporter: Cucuk Espe / Editor: Joko